Kamis, 31 Maret 2011

watashi no Himawari

“Kalian tahu, hari ini ada murid baru di kelas sebelah. Dengar-dengar sih orang terkenal.” Kata Megumi tiba-tiba saat jam pergantian pelajaran. Himawari Rika mencoba untuk tetap berkonsentrasi pada buku pelajaran dihadapannya itu. Berusaha untuk tidak ikut bergosip dengan teman-teman di belakangnya itu.
“Himawari-san. Kau tidak ikut ngobrol dengan kami? Belajar terus daritadi? Nggak capek apa?” tanya Miko. Himawari hanya bergeleng sambil tersenyum sopan. Himawari selalu begitu, minim bicara kepada teman-temannya. Itu yang selalu membuatnya terlihat sendirian.
“Heei!!! kalian tahu siapa anak baru di kelas 2-4? Yamada Ryosuke!!!” teriak Aoi di depan kelas. Para siswi juga langsung bergegas keluar kelas untuk melihat anak baru di kelas sebelah. Himawari memikirkan nama Yamada Ryosuke itu. Ia pernah mendengar, tapi dimana ya?

Keesokan harinya…
“Ehm…Ehm…Aoi, apa kau tahu dimana agendaku yang bergambar bunga matahari? yang tadi kutaruh di mejaku…” tanya Himawari takut-takut.
“Mana aku tahu barang-barangmu? Tanya saja yang lainnya.” Jawab Aoi ketus. Himawari pun beralih kepada Miko. “Miko tahu agendaku tidak?”
“Sepertinya tadi dibawa Genta ke ruang musik. Kalau tidak salah ya. Kau kesana saja.” Suruh Miko. Himawari membungkukkan badannya untuk terimakasih dan bergegas ke ruang musik, takutnya ruangan itu dikunci. Karena hari sudah sore.
Himawari memasuki ruangan dan mencari-cari agendanya di kolong-kolong meja. Dan pada akhirnya dia menemukan agendanya di kolong meja pada baris belakang. namun, ada sesuatu pandangan yang janggal di ekor mata kanannya. Himawari pun menoleh dan melihat sosok yang sedang duduk tertidur dibawah jendela.
Perlahan himawari mendekatinya dan mencoba membangunkannya, karena hari sudah larut. Tidak mungkin Himawari membiarkan anak itu tidur terus hingga besok pagi. “Hei…bangunlah. Hari sudah sore. Apa kau tidak pulang?” tanyanya agak keras sambil menggoyang-goyangkan tubuh murid laki-laki itu. Anak laki-laki itu bangun dengan lemas, dan melihat Himawari. Lalu ia tersadar, dan sedikit kaget. “Tolong, jangan mengejar-ngejarku. Aku ingin belajar dengan tenang. Aku tahu jika kau itu fansku. Tapi aku mohon, jangan ganggu aku dulu di sekolah ini.” Rontanya. Membuat Himawari ternganga.
“Kau demam ya? Ah aku tahu kau ini siapa. Yamada Ryosuke, yang membuat teman-temanku bisa gila. Aku ini bukan fansmu yang bejibun di luar sana. Aku bahkan tidak tahu kau itu siapa. Yang pasti kau bukan anggota kekaisaran Jepang, karena nama Yamada Ryosuke tidak tercantum pada silsilah keluarga kekaisaran Jepang hingga kini.” Kata Himawari panjang lebar.
Yamada Ryosuke atau yang lebih sering disapa Ryo-chan melongo melihat gadis pintar ini yang sampai-sampai mau menghafal silsilah keluarga kekaisaran Jepang.
“Lalu, ada perlu apa kemari? Bukannya sudah pulang, kenapa kau kemari?” tanya Ryo-chan sedikit ketus.
“Aku hanya ingin mengambil agendaku yang disembunyikan teman-temanku. Tidak ada maksud apa-apa. Lagipula mana tahu aku jika sang aktor ada disini.” Balas Himawari tak kalah ketus sembari berdiri .
Aduh cewek culun ini menyebalkan, pikir Ryo-chan. Ryo-chan mengangkat tangannya sambil menguap, namun secara tidak sengaja tangan Ryo-chan itu menarik pita rambut Himawari, dan tergerailah rambut Himawari yang hitam legam itu. Ryo-chan untuk sesaat ternyata bisa terpesona juga oleh Himawari. Merasa dipandangi, Himawari langsung menunduk dan ia merasakan wajahnya pasti memerah. Ia tidak berani memandang Ryo-chan. Ryo-chan lah orang yang pertama kali melihat rambut Himawari tergerai seperti itu.
“Apa-apaan sih kau ini?! membuatku malu saja!” gertak Himawari dan langsung pergi. Ryo-chan termenung dalam keterpesonaannya pada siswi yang sudah menghafal silsilah keluarga kekaisaran Jepang. Tak lama dia menoleh dimana Himawari tadi duduk. Ada agenda berwarna putih, dihiasi gambar bunga matahari yang besar di bagian tengah buku itu.


Ryo-chan duduk bersila di kamarnya. Lalu mengambil agenda Himawari tadi dan mulailah dibacanya. “Maaf lancang ya. Tapi aku hanya ingin tahu tentangmu…” katanya pada diri sendiri.
Halaman pertama diisi data diri. Himawari Rika, May 25 1994, Seisun Gakuen (2-3), favourite music: Muse, About me: just love books and Muse, Quote: I’m better when I’m alone. Halaman keuda diisi jadwal pelajaran. Halaman ketiga diisi catatan pelajaran hingga ke halaman tengah agenda. Selainnya itu ada puisi-puisi, catatan deskripsi suatu tempat, suatu benda, kejadian, dll. Membosankan, pikir Ryo-chan (-.-). Tapi dibuka-bukanya sekali lagi, dan di halaman akhir ada satu deretan nomor yang sepertinya nomor ponsel. Dihubunginya nomor itu, dan tersambung.

Himawari pontang-panting mencari agenda kesayangannya. Seisi kamarnya berantakan hingga semua pakaiannya keluar dari lemarinya, seprai tempat tidurnya tergeletak di lantai. Ia hampir menangis sewaktu tidak menemukan agenda itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Moshi moshi?” sapanya putus asa.
“Himawari-chan?” tanya sang penelpon.
“Siapa ini?!” tanya Himawari heran.
“Uhm…Yamada Ryosuke.”
“Hah?! Tau nomor ponselku darimana? Kurang ajar. Siapa yang berani-beraninya menyebarkan nomorku?” tanggap Himawari nyerocos.
“Maukah kau diam dulu dan mendengarkanku? Aku tahu nomormu dari agendamu yang tertinggal di ruang musik tadi.” Kata Ryo-chan cepat, sebelum didahului Himawari akan memarahinya.
“Aaaaaaaa~ benarkah? Ya ampun, syukurlah. Aku sudah sangat putus asa tidak melihat agendaku di kamarku sekarang.” Cerita Himawari.
“Sebegitu pentingkah?” tanya Ryo-chan ingin tahu.
“Tentu saja penting. Dia itu sudah kuanggap sebagai pelengkapku.” Jawab Himawari mantap.
“Uhm…lalu apa perlu aku kembalikan sekarang?” tanya Ryo-chan pelan.
“Aaa~ tidak usah. Merepotkanmu pasti. Besok saja di sekolah. Terimakasih ya sudah menyimpankannya. Aku sangat berterimakasih sekali.”
“Besok kan hari sabtu, pasti sekolah libur.” Kata Ryo-chan mengingatkan.
“Ah, aku kelupaan. Begini saja. Besok jam 9 aku pergi ke perpustakaan kota untuk mengembalikan buku. Bertemu disana saja ya?” tanya Himawari. “Tapi apa kau tidak sibuk dengan dunia keaktoranmu?” lanjutnya.
“Ah, tidak. Aku sedang cuti. Untuk sebulan kedepan. Baiklah, aku akan ke perpustakaan kota besok. Bye.”
“Sekali lagi terimakasih. Bye.” Balas Himawari lalu memutuskan hubungan telefon itu.


Keesokan harinya…
Ryo-chan duduk di kursi taman depan perpustakaan kota. Ryo-chan mengenakan topi baseball warna putih, mengenakan kacamata minus, dan masker bergambar pikachu menutupi mulut dan hidungnya. Penyamarannya berhasil, karena dari setengah jam yang lalu tidak ada yang menyapa atau meneriakinya sebagai Yamada Ryosuke. Bebrapa menit kemudian, Ryo-chan melihat gadis berkacamata, memakai polo shirt warna pink dan rok panjang lipit berwarna coklat. Rambutnya yang panjang sebahu juga tergerai indah dengan hiasan bandana putih bermotif bunga matahari. Ryo-chan ternganga karena tidak menyangka jika Himawari yang culun di sekolah bisa berdandan secantik ini. Apa dia berdandan secantik itu hanya karena akan bertemu Ryo-chan?
Himawari celingukan mencari sosok Ryo-chan. Pandangannya lalu berhenti pada cowok berjaket hitam dan bertopi di taman depan perpustakaan. Di akhir musim semi begini ada yang memakai masker dan jaket adalah suatu kejanggalan. Itu pasti Yamada-kun, penyamarannya jelek sekali. Pikir Himawari (-,-"). Himawari pun langsung menghampirinya.
“Hei…orang terkenal.” Sapa Himawari sembari duduk di sebelah Ryo-chan.
“Hah? Bagaimana kau bisa tahu ini aku?” tanya Ryo-chan kaget.
“Penyamaranmu total sangat jelek. Tentu aku bisa tahu. Mana ada orang memakai jaket hitam tebal dan pakai masker di mulut pada akhir musim semi begini? Ckckck. Ternyata meskipun terkenal, kau lumayan bodoh ya.” Ejek Himawari sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Haaah, cerewet. Ini agendamu.” kata Ryo-chan sambil menyerahkan buku tebal bersampul bunga matahari itu.
“Aa~ arigatou Yamada-kun!” seru Himawari senang. “Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya…” pamit Himawari sambil melambaikan tangannya dan pergi.
“Eits, tunggu dulu!! Masak hanya begitu saja?” tanya Ryo-chan tidak terima.
“Maksudmu?” tanya Himawari heran.
“Ehm…Mungkin, kau bisa…menemaniku…jalan-jalan?” tanyanya ngambang. Membuat Himawari ternganga.

Akhirnya,
“Haaa…Taman bermain?!” seru Himawari terheran.
“Hehe…Aku tidak pernah kemari. Sekarang mumpung aku libur dan juga ada temannya. Jadi aku memutuskan kemari.” Kata Ryo-chan senang. “Ok, sekarang kita naik jet coaster saja dulu.” Ajak Ryo-chan sambil menggandeng tangan Himawari. Wajah Himawari memerah.
“Yamada-kun…” panggil Himawari lirih. Ryo-chan menoleh dan tersenyum. Walau Himawari tidak bisa melihat betapa manisnya senyum Ryo-chan. “Kenapa kau tidak mengajak salah satu teman sekelasmu untuk pergi ke taman bermain ini? Atau kalau tidak, pergi dengan pacarmu mungkin, atau dengan managermu?” tanya Himawari.
“Jika teman sekelas itu aku takut jika mengajak 1 orang maka yang lain akan membenciku. Pacar? Aku nggak punya pacar. Manager? Hei dia sudah berkeluarga.” Jawabnya lengkap. “Apa kau tidak suka ku ajak kemari Himawari?” lanjutnya.
“Ehm, tidak juga. Aku suka kok. Hanya, aku sudah keseringan kemari.”
“Ha? Benarkah? Dalam rangka apa bisa sering datang kemari?” tanya Ryo-chan heran.
“Aku membantu kakak perempuanku yang bekerja menjadi guru TK. Tiap akhir pekan, TK itu selalu mengajak anak-anak untuk berwisata sambil belajar. Bulan ini aku sudah menemani 3 kelas kemari di tambah dengamu jadi sudah 4 kali kemari.”
“Oh…begitu. Oke, sekarang kau nikmati saja hari ini denganku ya Himawari.” Kata Ryo-chan semangat. Sepertinya aku memang sudah menyukaimu Himawari, pikir Ryo-chan sambil senyam-senyum sendiri. Himawari sendiri hanya bisa diam, karena sejak Ryo-chan mengajak untuk ke taman bermain tadi, degup jantung Himawari sudah berdetak tidak beraturan.
“Himawari…Himawari…” panggil Ryo-chan saat berada di salah satu bilik bianglala.
“Apa Yamada-kun?” jawab Himawari.
“Tidak, aku tidak memanggilmu. Hanya mengucapkan namamu. Ternyata jika dipikir-pikir, memanggilmu dengan nama Himawari itu terlalu panjang.” Jelas Ryo-chan
“Lalu apa urusannya denganmu?”
“Tentu ada… oh iya, nama lengkapmu Himawari Rika kan? Karena Himawari kepanjangan, maka aku akan memanggilmu Rika-chan!!!” seru Ryo-chan. Mendengar Ryo-chan memanggil Himawari dengan nama itu, Himawari hanya bisa tertunduk. Dia malu bukan main, wajahnya pasti sudah merah seperti tomat.
“Rika-chan…Rika-chan…” panggil Ryo-chan lagi.
“Jangan memanggilku seperti itu. Aku malu…” kata Himawari lirih.
“Kenapa malu? Kau pun juga boleh memanggilku dengan Ryo-chan.” Tawar Ryo-chan.
“Aaa~ awas kau Yamada-kun!” ancam Himawari masih dengan menunduk.
“Hahaha…masak mengancam dengan menundukkan kepala begitu? Rika-chan, Rika-chan…” goda Ryo-chan.
Hari sudah sore, dan mereka pun pulang. Ryo-chan mengantarkan Himawari pulang hingga ke depan rumahnya. Dan selama perjalanan pulang itu pun tangan Ryo-chan tak pernah melepaskan tangan Himawari. Himawari hanya diam. Ingin melepaskan tangannya itu, namun cengkeraman tangan Ryo-chan lebih kuat. Entah mengapa, Himawari tidak berani membentak Ryo-chan seperti kemarin.


Himawari berjalan dengan mantap menuju kelasnya. Dia senang sekali karena kemarin lusa ia bisa keluar bareng Ryo-chan. Bukan karena Ryo-chan itu orang terkenal. Tapi karena Ryo-chan memang orang yang menyenangkan. Sepertinya, Himawari mulai menyukai Ryo-chan. Tapi ia tahu sepertinya dirinya tak pantas untuk menyukai Ryo-chan. Bisa menjadi teman dekatnya Ryo-chan saja Himawari sudah merasa senang.
Himawari melihat ada segerombolan siswi di depan kelasnya. Sampai Himawari berada di depan kelas, siswi-siswi itu memandangi Himawari dengan benci.
“Oh, jadi ini yang kemarin merayu Ryo-chan?” tanya Megumi.
“Hei Himawari, pakai guna-guna apa kau sampai bisa kencan seharian di taman bermain dengan Yamada Ryosuke hah?!” tambah Aoi.
“Kau itu sudah culun, sok pintar. Kau tidak pantas untuk Ryo-chan.” Kali ini Nana dari kelas sebelah.
Apa-apaan ini, apa salahnya hanya berjalan dengan teman kelas sebelah? Lagipula, kemarin yang mengajak kan Yamada-kun. Apa dia hanya menjebakku kemarin? Mengajakku ke taman bermain. Lalu dia tulis di internet, dan ia ingin aku dihajar oleh semua fansnya di bumi ini? Aku punya salah apa padanya? Teganya kau Yamada-kun! Pikir Himawari sedih dan kecewa. Gertakan dari teman-temannya membuat ia ingin menangis saja. Himawari langsung dan berlari secepatnya. Ia ingin pulang.


Saat istirahat, Ryo-chan melewati ruang kelas 2-3, namun tidak ditemuinya sosok Himawari Rika. Padahal, ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikannya. Ryo-chan memberanikan diri untuk bertanya pada teman sekelasnya yang sedang berdiri di pintu kelas.
“Permisi, aku ingin bertanya. Apakah Himawari tidak masuk?” tanya Ryo-chan sopan.
“Oh kau orang terkenal itu ya. Dia tadi pagi sudah masuk tapi gara-gara di keroyok siswi kelas ini dan kelas sebelah, dia lari entah kemana.” Jawab Genta.
“Ha? Dikeroyok? Bagaimana bisa?” tanya Ryo-chan kaget. Genta lalu memberinya 2 lembar kertas yang berisi berita dari internet mengenai Ryo-chan dan pacarnya. Ternyata tanpa diketahuinya, dia kemarin sudah ketahuan wartawan.
“Terimakasih ya…” kata Ryo-chan sembari pergi berusaha untuk menemukan Himawari. Sambil berjalan cepat, ia pun juga berusaha menelfon Himawari. Ponselnya tidak aktif.

Himawari pulang sekolah dengan menangis. Ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Setelah dilihat nama yang tertera di layar, langsung dimatikan ponselnya. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan orang terkenal itu. Himawari memasuki rumahnya. Ia sempat ditanyai ibunya. Ia pun menjawab jika kepalanya pusing dan ingin istirahat. Melihat kondisi Himawari yang berantakan begitu, ibunya pun langsung mengerti.

Ryo-chan bingung harus mencari Himawari kemana lagi. Dia sudah menjadi tontonan masyarakat di jalan. Mereka ternganga melihat Yamada Ryosuke sedang lari-lari mencari seseorang. Akhirnya pilihan tempat terakhir yang ada di pikiran Ryo-chan adalah rumah Himawari.

“Rika…ada temanmu di depan. Keluarlah. Ibu pergi ke supermarket sebentar ya...” pamit sang ibu pada Rika yang masih mengurung diri di kamar. Akhirnya tanpa tahu siapa yang datang ke rumahnya, Rika keluar kamar dan turun ke ruang tamu. Matanya sembap sehabis nangis ditambah tidur siang.
Saat melihat Himawari memasuki ruang tamu, Ryo-chan langsung berdiri dan memeluk Himawari. “Rika-chan!” serunya senang karena melihat Rika tidak apa-apa. Rika langsung mendorong Ryo-chan.
“Untuk apa datang kemari?” tanyanya dingin.
“Aku tahu semua yang terjadi tadi di sekolah. Aku minta maaf, jika waktu kita bermain kemarin itu telah diketahui oleh wartawan. Berita di internet cepat menyebar dan bisa membuat fansku di sekolah marah kepadamu. Aku minta maaf sekali, aku sudah membuatmu dalam bahaya.” Kata Ryo-chan dengan sangat menyesal.
“Ha? Diketahui wartawan atau memang kau yang memanggil mereka? Apa salahku padamu Yamada-kun? Aku tahu jika aku ini mungkin dilihat saja sudah terlihat menyebalkan. Tapi kau juga tidak usah ikut-ikutan teman-temanku untuk mengerjaiku. Membuatku berbunga-bunga, membuatku merasa senang tiap ada di dekatmu, aku pikir aku adalah orang paling beruntung yang bisa mengenalmu bukan sebagai orang terkenal. Ternyata kau hanya ingin aku dihajar semua fansmu.” Cerita Rika tentang semua unek-uneknya, dan ia hampir menangis.
Ryo-chan tampak bingung dan menyesal. Dia sudah salah faham, pikir Ryo-chan. “Bukan beg…”
“Sudahlah. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Lebih baik kau pulang saja.” Perintah Himawari sambil menahan isak tangisnya.
“Gomenasai Himawari. Tapi semua yang kau katakan tadi bukanlah yang sebenarnya. Aku tidak pernah bermaksud mengecewakanmu. Asal kau tahu, aku sudah mulai menyukaimu. Karena kau berbeda dari yang lain.” Kata Ryo-chan. “Oh iya, satu hal lagi. Aku ingin memberitahumu jika lusa besok aku akan pindah ke Amerika. Hanya untuk melanjutkan sekolahku disana. Maaf jika aku sudah banyak merepotkanmu, yang pasti aku senang mengenalmu. Terlebih, aku bisa jatuh cinta padamu Rika-chan.” Kata Ryo-chan sedih lalu pergi dari rumah Himawari.

Malam hari…
“He? Itu bukannya temanmu yang tadi siang Rika-chan?” seru ibu. Rika yang berada di dapur terpaksa keluar untuk mengetahui siapa yang dimaksudkan ibunya.
Ada Yamada Ryosuke sedang di wawancara, “Oh masalah berita di internet itu? Hehe… ya mulanya hanya teman biasa, tapi karena dia sangat baik dan menyenangkan. Dia itu bisa dibilang calon pacarku. Hehehe. Oh iya, aku pun ingin bilang. Bagi fansku, terutama yang berada di sekolahku. Aku mohon jangan ganggu Rika-chan lagi. Dia tidak menggodaku atau apa, tapi memang aku yang menyukainya. Aku mohon kalian mengerti ya. Baiklah, sekian penjelasan dariku. Bye..” kata Ryo-chan sambil tersenyum ceria. Tapi Himawari tahu jika pandangannya menyorotkan kesedihan.
“Ha…dia menyukaimu Rikan-chan?” tanya kak Mika kaget. Rika hanya tersenyum kecut dan pergi ke kamar.


Keesokan harinya, Himawari pergi ke sekolah dengan pikiran yang cuek. Dia ingin tidak peduli. Dia memasuki kelas yang sudah setengah ramai. Dia merasa dilihati teman-temannya. Tapi ia tidak peduli.
“Himawari-chan. Kami ingin minta maaf soal kemarin.” Kata Miko tiba-tiba.
“Maafkan tingkah laku kami kemarin ya Himawari-chan.” Sahut Megumi.
“Kalian disuruh orang terkenal itu? Sudahlah, percuma. Aku tahu yang dia katakan kemarin di televisi itu suatu kebohongan.”
“Kau salah Himawari. Dia itu benar-benar menyukaimu. Kami sadar bahwa kami tidak bisa memaksakan perasaan Ryo-chan untuk kami.”
“Yang kalian bicarakan itu bohong. Mana mungkin kalian yang sefanatik itu dengan Yamada Ryosuke bisa berkata begitu.”
“Kau tahu, kami semua kemarin malam di undang ke rumahnya. Dia curhat pada kami semua, semuanya. Jadi dia memang benar-benar menyukaimu.” Kata Aoi meyakinkan.
“Dia sudah menunggumu di atap sekolah. Kesanalah untuk bicara dengannya.” Suruh Miko.

Akhirnya, Himawari pergi dan berlari ke arah atap gedung sekolah Seisun Gakuen. Di atap, dilihatnya Ryo-chan sedang berdiri mendekati pagar.
“Yamada-kun, gomenasai. Untuk kemarin. Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan.” Kata Himawari dengan nada tinggi. Hampir teriak. Ryo-chan langsung menoleh karena kaget.
“Rika-chan…” panggil Ryo-chan kaget. “Ehm, jadi kau sudah tidak marah lagi padaku?” tanya Ryo-chan pelan. Himawari mengangguk. Cepat.
Ryo-chan pun langsung berlari dan memeluk Himawari. “Aku menyukaimu Rika-chan…” kata Ryo-chan lembut.
“Aku juga menyukaimu Yamada-kun…” jawab Himawari sambil menangis.
“Jadi kau akan pergi ke Amerika besok? Jadi aku akan sendirian disini?” tanya Himawari malu pada akhirnya.
“Ehm… iya, aku akan pergi. Tenang saja, setiap liburan aku pasti akan pulang ke Jepang untuk pekerjaanku juga untukmu.” Jawab Ryo-chan sambil mengusap kepala Himawari dengan lembut. “Sebelum itu, bolehkan jika aku jadi pacarmu Rika-chan?” tanya Ryo-chan. Himawari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan mengangguk cepat. Di rengkuhnya Himawari ke dalam pelukannya.
(For Rika)

2 komentar: