Rabu, 13 April 2011

Oh, my junior…you’re psycho

Himawari membuka matanya perlahan setelah merasakan ponsel yang ditaruh di sebelah bantalnya bergetar. Diraihnya ponsel, dan dilihatnya siapa yang menelfon. ‘Ryo-chan’
“Moshi moshi?” sapa Himawari malas.
“Hallo sayaaang,” sapa Ryo-chan mesra.
“Hehe…jangan panggil begitu ah. Aku malu~” kata Himawari sopan.
“Barusan bangun ya sepertinya?”
“Iya, kan hari minggu. Jadi ya bangun siang. Kamu sedang apa Ryo-chan?” tanya Himawari.
“Aku baru saja selesai jogging. Ini masih di taman. Sedang istirahat.”
“Oh, kamu sendirian?”
“Nggak, aku bersama Ryutaro.”
“Uhm…siapa itu?”
“Oh iya ya, aku belum cerita kalau aku punya adik kandung. Namanya Ryutaro.”
“A…souka. Oke, nanti telfon-telfonan lagi ya. Aku mau mandi dulu. Mau les piano nih.”
“Oke, bye…”
“Bye bye Ryo-chan.” Kata Himawari diiringi menombol tombol merah di ponselnya.

Hidup Himawari terasa lebih baik setelah dia menjadi pacar Yamada Ryosuke. Entah apa itu pengaruh sang penyanyi terkenal ada di dekatnya atau bagaimana, ia tidak tahu. Himawari pernah cerita tentang kekhawatirannya itu, tapi Ryo-chan hanya menanggapi ‘Sudahlah, jangan dipikir. Yang penting kan kau mencintaiku dan aku pun begitu. Jangan menanggapi perkataan orang ya’. Sekarang, Himawari jadi berangsur-angsur punya teman yang banyak, dan ia juga bisa lebih PD atas dirinya sendiri. Ryo-chan sudah 5 bulan ada di Amerika. Himawari terkadang merasa kesepian, dia harus bersabar hingga liburan semester depan ini untuk bertemu dengan Ryo-chan tersayang.
“Rika-chan…” sapa kak Yoko saat melihat Rika keluar dari kamarnya.
“Iya? Ada apa Onee-chan?” tanya Rika.
“Hari ini temani anak-anak lagi ya? Tapi bersamaku kok. Hanya saja, aku merasa kesepian saja mungkin bila sendirian disana…”
“Oh, baiklah. Jam berapa berangkatnya? Ke taman bermain lagi?” tanya Himawari bosan.
“Uhm tidak, hari ini kita ke parade sirkus. Yang diselenggarakan di dekat taman bermain selama 3 hari mulai jumat kemarin.”
“Oh…kalau begitu, aku nanti ikut les piano yang jam malam saja. Aku akan mandi dulu kak.” Kata Himawari sambil menunjuk arah kamar mandi. Yoko mengangguk cepat dan mengerti.


Himawari menertibkan anak-anak TK di depan pintu masuk parade sirkus. Setelah semua masuk, mereka hanya menunggu acara untuk dimulai.
“Onee-chan, selesainya jam berapa?” tanya Himawari.
“Entahlah, mungkin jam 12 siang. Ehm, Himawari. Sepertinya anak itu daritadi memperhatikanmu.”
“Hah? Yang memakai baju warna abu-abu itu?” tanya Himawari, dan Yoo hanya mengangguk.
“Sepertinya aku pernah lihat. Tapi aku lupa.” Jawab Himawari sembari menatap anak itu lekat-lekat. Tidak lama, mereka saling pandang. Dan anak itu melempar senyum manis ke Himawari. Wajah Himawari sempat memerah, lalu ditutupinya wajahnya. Ia malu. Diputuskannya untuk kembali fokus melihat sirkus. Tiba-tiba, ponselnya yang bergetar mengejutkan Himawari. Dilihatnya layar ponsel,
From: Ryo-chan ^^
Rika-chan, kau slesai les jam brpa?
Aku ingin menelfonmu lgi :D
Ah~ aku lupa memberitahu Ryo-chan jika aku les piano nanti malam. Pikir Himawari sambil menepuk jidatnya.
To: Ryo-chan ^^
Gomenne~ Ryo-chan >< ak lpa mmbrthumu
Jka ak les nant mlam. Skrang ak lgi
nontn sirkus brsma ank” TK. Ak membntu
kakakku.
Tidak lama kemudian, Ryo-chan pun membalas.
From: Ryo-chan ^^
Soukka, daijoubu sayang 
Gni aja. Nant mlam chatting yuk!
Jm 8 wktu jepang. Ok? ;*
Himawari hanya tersenyum melihat balasan sms itu.
“Rika-chan. Kenapa kau tersenyum sendiri? Dapat sms dari Yamada-kun?” tanya kak Yoko. Rika mengangguk cepat.


Siang itu sangat membosankan, Himawari meletakkan kepalanya di atas meja sambil memperhatikan pak guru menjelaskan pelajaran matematika. Pandangan Himawari berpindah pada pemandangan di luar kelasnya. Langit begitu biru, dan hari sangat indah. Tetapi Himawari sangat tidak bersemangat hari ini.
Himawari memandang adik-adik kelasnya yang sedang bermain sepak bola. Pandangannya berhenti dan menamatkan sejenak pada adik kelasnya yang tinggi dan kurus, dan tampan. Sesaat, anak itu merasa diperhatikan dan akhirnya menoleh pada Himawari yang sedang memandanginya dari kelas di lantai 3. Himawari kaget, itu anak yang kemarin juga menonton parade sirkus. Anak yang kemarin memandanginya.
Anak laki-laki memandangi Himawari dan tersenyum hangat padanya.
“Yuto!! Ayo main lagi.” Ajak salah satu temannya yang ikut bermain sepak bola.
Saat istirahat, Himawari memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk mencari-cari buku baru.
“Ah, Himawari-san. Sudah lama kau tidak kemari.” Kata bu Midori—pustakawan di sekolah ini.
“Ah, iya bu. Apa ada buku baru?”
“Banyak sekali. Ada di pojok ruangan ya.” Kata bu Midori sambil menunjukkan rak buku di pojok ruangan. Himawari mengangguk-angguk mengerti dan pergi ke arah yang ditunjuk.
Himawari memilih satu buku dan memutuskan untuk duduk di tempat baca yang disediakan di pojok ruangan juga.
“Ahh~ akhirnya berkesempatan bicara denganmu juga kakak kelas.” tiba-tiba ada suara yang sedikit mengejutkan Himawari. Himawari menoleh, dan mendapati anak laki-laki yang di parade sirkus kemarin sudah duduk di sebelahnya.
“Namaku Nakajima Yuto. Kakak?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
“Himawari…Himawari Rika.” Jawab Himawari pelan.
“Oke Rika-chan kalau begitu. Aku suka padamu. Mau tidak jadi pacarku?” tanya Yuto sangat gembira.
“Ha?Ehm…maaf, aku sudah punya pacar. Gomenne~” kata Himawari sopan.
“Uhm…siapa pacarmu? Pasti bukan anak sekolah ini kan? Kalau begitu aku akan merebutmu darinya.” Kata Yuto mantab. Himawari ternganga mendengarnya.
“Ah~ bercandamu garing sekali Yuto. Hehehe…” kata Himawari sambil menepuk bahu Yuto pelan.
“Aku serius. Akan kubuktikan cintaku padamu yang kupendam dari semingguan yang lalu. Aku akan mendapatkanmu. Lihat saja…” kata Yuto mantab dan tiba-tiba Yuto mencium pipi Himawari dengan lembut dan cepat, sehingga Himawari tidak sempat untuk mencegahnya.
“A…ap…apa yang kau lakukan?” tanya Himawari kaget sambil memeganggi pipinya.
“Kalau tidak berusaha keras, bukan Yuto namanya.” Katanya sambil mengedipkan mata kanannya. “Ingatlah, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku juga!” katanya sembari pergi. Himawari bingung dengan keadaan ini, dan bagaimana cara berceritanya pada Ryo-chan. Disamping itu, di balik jendela belakang Himawari duduk, ada bayangan anak perempuan tersenyum sinis sambil memegang kamera digital.


Malam itu, Ryo-chan tidak bisa tidur, ada sesuatu yang dipikirkannya, tapi dia sendiri tidak tahu itu apa. Diputuskannya untuk membuka e-mailnya. Siapa tahu Himawari sama-sama sedang online, jadi bisa chatting. Beberapa menit kemudian, Ryo-chan langsung lemas. Ternyata Himawari tidak online. Oh sial… pikirnya.
Ryo-chan melihat ada beberapa surat elektronik di inboxnya. Dibukanya satu persatu. Ada yang berasal dari forum fanpagenya, group, teman-teman lama di jepang, dan ada 1 lagi yang tidak dikenalnya. Dibukanya surat itu, ternyata sebuah kiriman foto. Ryo-chan tersentak dengan foto itu. Foto Himawarinya sedang dicium pipinya mesra oleh Yuto, sahabatnya sendiri.


Himawari turun dari kamarnya dan siap-siap ke sekolah dengan mata agak bengkak. Dia kemarin malam terbangun dan menangis setelah bermimpi Ryo-chan membencinya dan meninggalkannya, serta berpacaran dengan artis remaja yang sedang naik daun saat ini.
Mata Himawari membelalak saat melihat apa yang ada dihadapannya kali ini. Yuto sedang sarapan bersama ibu dan kakak perempuannya.
“A…a…apa-apaan ini?” tanya Himawari sedikit marah.
“Pagi Himawari. Adik kelasmu ini baik sekali. Dia menjemputmu untuk pergi ke sekolah bersama pagi ini. Dia juga membawakan kita roti yang masih hangat, roti yang baru saja keluar dari oven.” Kata Ibu Himawari sedikit tidak tahu malu.
“Yuto, tahu alamatku darimana kau?” tanya Himawari sambil mendekat dan berbisaik kepada Yuto.
“Apa gunanya wali kelasmu? Hahaha…”
“Sial…” gerutu Himawari.
Tidak lama setelah sarapan, akhirnya dengan dipaksa sang ibu Himawari berangkat sekolah dengan Yuto. Selama perjalanan, Himawari hanya bisa diam. Dia malas bersama Yuto.
Saat berada di persimpangan jalan menuju sekolah, Yuto menarik tangan Himawari mengarah kepada arah yang bukan menuju ke sekolah.
“Hei, apa-apaan kau ini. Mau kemana ini? Aku ingin ke sekolah.” Ronta Himawari. Tapi rontaan itu tidak dihiraukan oleh Yuto. Dia hanya tersenyum lembut penuh makna kepada Himawari. Himawari jadi menurut dia akan dibawa kemana. Setelah melewati beberapa blok, ternyat aYuto membawanya ke taman bermain yang berjarak 5 blok dari rumahnya sendiri.
“Temani aku bermain disini ya…” pinta Yuto. Himawari hanya diam. Dia dibimbing untuk duduk di satu-satunya ayunan di tempat tersebut. Lalu Yuto duduk di hadapannya sambil bermain pasir.
“Apa yang kau suka dariku? Bagaimana bisa kau ingin aku jadi pacarmu?” tanya Himawari secara beruntun.
“Aku menyukaimu karena Yamada Ryosuke bisa menyukaimu. Dia menyukaimu pasti ada sesuatu yang berbeda dari perempuan lain. Sekarang aku mengerti, sesuatu itu. Itu karena kau membenci ketenarannya. Sangat jarang menemukan perempuanmu sepertimu Himawari. Ryosuke tidak boleh mendapatkamu. Yang boleh mendapatkanmu adalah aku. Jadi kau harus jadi pacarku,” kata Yuto sembari mendekat kepada Himawari dan berniat untuk mencium bibir tipis Himawari. Himawari ingin menghindar, tetapi ia sudah berada dalam pelukan Yuto. Himawari hanya menutup mata atas ketakutannya.
Tiba-tiba, Yuto tertarik ke belakang dan tak lama terdengar suara orang dipukul. Himawari yang masih menutup matanya segera membuka matanya dan melihat apa yang terjadi. Tidak jauh dihadapannya, ada seseorang memakai jaket hitam, sepatu kets, dengan boater hat warna putih, serta tak lupa kacamata hitamnya. Himawari sudah tahu jika dia adalah Ryo-chan. Sosok yang amat sangat dirindukannya.
“Hei…kau curang. Kau belum mendengarkan kelanjutan dari kalimatku tadi kan.” Teriak Yuto.
“Kau mau bilang apa hah? Dasar playboy! Kau sengaja membuatku marah kan?” gertak Ryo-chan.
“Biarkan aku bicara dulu Ryo-chan...” teriak Yuto lagi. Himawari tidak tahu harus melakukan apa. Dia hanya menangis, kaget, dan tidak menyangka.
“Aah~ dasar si Yuto itu, membuat kakak marah saja.” Tiba-tiba suara di sebelah Himawari terdengar berkomentar. Himawari menoleh dan melihat anak kecil di sebelahnya sedang membawa 2 koper.
“Ah, siapa kau?” tanya Himawari.
“Oh, aku belum memperkenalkan diri ya. Aku Ryutaro  satu-satunya adik kak Ryosuke. Aku juga 1 agency dengan kakak dan Yuto di Jepang ini.” Jelasnya.
“Hum…kenapa kau tidak berusaha melerai mereka?”
“Aku sudah tahu kebiasaan mereka. Dan jika mereka sedang berkelahi, mereka akan meminta untuk tidak dilerai. Jika ada yang coba-coba melerai, yang melerai itulah yang akan dihabisi dan dibenci kakak dan Yuto.” Jelasnya lagi.
“Tapi kan mereka babak belur begitu.”
“Itu tugasmu sebagai pacarnya kak Ryosuke kan Himawari-san…” sarannya.
Himawari sudah akan berdiri dan melerai, namun perkelahian mereka berhenti. Ryo-chan dan Yuto pun berjalan ke arah Himawari.
“Himawari-san, maafkan aku ya. Aku memang sangat menyukaimu. Tetapi aku juga masih mempunyai perasaan hormat pada Ryo-chan. Aku sangant menikmati bermain-main bersamamu. Mulanya, aku tidak ada niat. Tapi, saat pandangan kita bertemu waktu aku bermain sepak bola itu aku jadi ada ide mengujimu dengan Ryo-chan. Maafkan aku sekali lagi.” Kata Yuto sambil membungkukkan badannya. “AH~ aku lupa akan suatu hal. Aku mendekatimu ini tidak sepenuhnya ideku Himawari-san. Aoi anak kelasmu mulanya menyuruhku untuk mendekatimu. Aku juga tidak tahu kenapa. Katanya yang pasti aku akan mendapatkan keuntungan. Tapi apa, aku malah mendapatkan pukulan dari Ryo-chan.” Lanjutnya.
“Sudahlah Yuto, kau pergi duluan saja bersama Ryutaro. Aku ingin bicara berdua saja dengan Himawari.” Kata Ryo-chan tegas.
“Baiklah. Ayo pergi Ryotaro. Aku traktir kau! Hahaha…” ajak Yuto sembari pergi entah kemana.
Dan sekarang, tinggallah Ryo-chan dan Himawari berdua saja.
“Ayo pergi ke rumahku. Aku capek. Banyak yang ingin kubicarakan denganmu.” ajak Ryo-chan.


Sesampainya dirumah Ryo-chan, Himawari masih terdiam dan gugup menghadapi Ryo-chan. Dia hanya duduk dengan keadaan kepala tertunduk. Tidak lama setelah Ryo-chan pergi ke dapur, ia kembali dengan membawa 2 kaleng cola. Ryo-chan duduk bersebelahan dengan Himawari. Lalu, dia meletakkan 2 lembar foto yang baru di printnya tadi malam.
Himawari tersontak dengan adanya foto dirinya dengan Yuto saat di perpustakaan. Himawari lalu menangis melihat foto itu. Dia sudah sangat mengecewakan Ryo-chan.
Ryo-chan menunggu Himawari sampai menangisnya selesai. Tetapi, lama-kelamaan melihat Himawari menangis sesunggukan membuatnya tidak tega. Lalu, direngkuhnya Himawari kedalam pelukannya.
Ryo-chan terdiam. Dalam ruang keluarga itu hanya terdengar suara isak tangis Himawari.
“Gomenasai…Gomenasai Ryo-chan…Gomenasai…” ucap Himawari di sela-sela tangisnya, berulang-ulang.
“Aku yang minta maaf padamu. Aku sudah meninggalkanmu, aku yang lalai menjagamu. Aku yang minta maaf.” Kata Ryo-chan lembut.
“Kesalahanku Ryo-chan. Kenapa aku tidak menghindar saat Yuto mencium pipiku. Maafkan aku…”
Dilepaskan Himawari dan sekarang Ryo-chan menatapnya lembut, “Yuto sudah mengakaui semua itu. Dia menciummu karena disuruh Aoi. Ini bukanlah kesalahanmu Rika-chan. Sudah, jangan menangis. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu, dan aku tak akan melepaskanmu.” Kata Ryo-chan mantab dan lalu mencium kening Himawari dengan lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar